Sabtu, 27 Mei 2017

Ricoh WG-50, Kamera Underwater dengan Lensa Wide 28-140mm


Buat para pecinta fotografi underwater tentu ingin perangkat kamera yang tidak sekedar mampu bertahan di air dengan baik, tetapi juga memiliki kualitas kamera yang mumpuni. Kali ini Ricoh baru aja memperkenalkan kamera kompak barunya yang dikhususkan untuk kebutuhan outdoor.
Ricoh WG-50, adalah kamera kompak yang memiliki beberapa keunggulan untuk kebutuhan outdoor khususnya fotorgrafi underwater.

Kamera ini diklaim mampu tahan air hingga kedalaman 14 meter selama 2 jam. Wow, tentu ini sangat bagus untuk kebutuhan underwater.

Tidak sekedar mengunggulkan ketahanan air dan fisik saja, tetapi dari segi performa, kamera ini juga sudah sudah dilengkapi beberapa fitur yang memanjakan penggunanya. Seperti adanya fitur 5x zoom dan dukungan lampu LED berjumlah 6 buah yang memutar di sekitar lensa.

Fitur zoom ini ada berkat penggunaan lensa wide 28 – 140mm dengan aperture f/2.5-5.5. Jadi sangat direkomendasikan sekali untuk kebutuhan underwater yang notabene kadang minim cahaya.

Ricoh WG-50 ini menggunakan sensor kamera BSI-CMOS 16 MP yang dapat digunakan untuk merekam video kualitas Full HD 1920 x 1080 piksel 30 fps.

Selain itu kamera ini memiliki nilai ISO maksimal yang cukup tinggi, ISO 6400. Tersedia layar LCD ukuran 2,7 inci dengan 230.000 dots.

Tidak hanya tahan air, kamera ini juga sudah dilengkapi pelindung sedemikian rupa yang membuatnya tahan banting. Misal jatuh dari ketinggian 1,6 meter saja masih aman. Dan kamera ini mampu menahan beban hingga 100 kg. Mau digunakan di suhu -10°C masih oke-oke saja. Jadi ini memang kamera sudah di desain untuk keperluan outdoor.

Dengan adanya lensa 28-140 mm, memungkin untuk digunakan memotret macro dan keberadaan 6 buah LED sangat membantu sekali.

Ricoh WG-50 ini juga memiliki tombol-tombol navigasi yang mudah digunakan. Letaknya di sisi kanan semua sehingga bisa digunakan hanya dengan satu jari (jempol) saja.

Fitur-fitur yang ada di kamera ini cukup lengkap untuk ukuran kamera outdoor. Tersedia port USB 2.0, HDMI, microphone stereo tetapi tidak ada jack microphone. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di spesifikasi di bawah.

Rencananya di akhir Juni nanti Ricoh WG-50 sudah ada dipasaran. Dan harga yang ditawarkannya pun tidak terlalu mahal, hanya sekitar $279 saja atau kurang lebih Rp 3,8 juta. Dari informasi yang ada, Ricoh WG-50 hanya tersedia dalam dua varian warna saja, hitam dan orange.

Spesifikasi Ricoh WG-50

Price
MSRP$279/£249
Body type
Body typeCompact
Body materialComposite
Sensor
Max resolution4608 x 3456
Image ratio w:h1:1, 4:3, 16:9
Effective pixels16 megapixels
Sensor photo detectors17 megapixels
Sensor size1/2.3″ (6.17 x 4.55 mm)
Sensor typeBSI-CMOS
Color spacesRGB
Color filter arrayPrimary color filter
Image
ISOAuto, 125-6400
White balance presets6
Custom white balanceYes
Image stabilizationDigital only
Uncompressed formatNo
JPEG quality levelsFine, normal, basic
File format
  • JPEG (Exif v2.3)
Optics & Focus
Focal length (equiv.)28–140 mm
Optical zoom5×
Maximum apertureF3.5–5.5
Autofocus
  • Contrast Detect (sensor)
  • Multi-area
  • Center
  • Tracking
  • Single
  • Continuous
  • Face Detection
  • Live View
Autofocus assist lampYes
Digital zoomYes (7.2X)
Manual focusYes
Normal focus range50 cm (19.69)
Macro focus range1 cm (0.39)
Number of focus points9
Screen / viewfinder
Articulated LCDFixed
Screen size2.7
Screen dots230,000
Touch screenNo
Screen typeTFT LCD
Live viewYes
Viewfinder typeNone
Photography features
Minimum shutter speed4 sec
Maximum shutter speed1/4000 sec
Exposure modes
  • Auto
  • Program
Scene modes
  • HDR
  • Handheld Night Snap
  • Movie
  • High Speed Movie
  • Digital Microscope
  • Landscape
  • Flower
  • Portrait
  • Underwater
  • Underwater Movie
  • Interval Shot
  • Interval Movie
  • Surf & Snow
  • Kids
  • Pet
  • Sport
  • Night Scene
  • Night Scene Portrait
  • Fireworks
  • Food
  • Digital SR
  • Report
  • Green
Built-in flashYes
Flash range5.50 m (at Auto ISO)
External flashNo
Flash modesOn, off
Drive modes
  • Single
  • Self-timer
  • Continuous
  • Burst
  • Remote control
  • Auto Bracketing
Continuous drive8.0 fps
Self-timerYes (2 or 10 secs, remote)
Metering modes
  • Multi
  • Center-weighted
  • Spot
Exposure compensation±2 (at 1/3 EV steps)
AE Bracketing±2 (3 frames at 1/3 EV steps)
Videography features
FormatMPEG-4, H.264
Modes
  • 1920 x 1080 @ 30p, MOV, H.264, Linear PCM
  • 1280 x 720 @ 120p, MOV, H.264, Linear PCM
  • 1280 x 720 @ 60p, MOV, H.264, Linear PCM
  • 1280 x 720 @ 30p, MOV, H.264, Linear PCM
MicrophoneStereo
SpeakerMono
Storage
Storage typesSD/SDHC/SDXC card
Connectivity
USBUSB 2.0 (480 Mbit/sec)
HDMIYes (micro-HDMI)
Microphone portNo
Headphone portNo
Remote controlYes (Wireless)
Physical
Environmentally sealedYes
BatteryBattery Pack
Battery descriptionD-LI92 lithium-ion battery & charger
Battery Life (CIPA)300
Weight (inc. batteries)193 g (0.43 lb / 6.81 oz)
Dimensions123 x 62 x 30 mm (4.84 x 2.44 x 1.18)
Other features
Orientation sensorYes
Timelapse recordingYes
GPSNone

HTC Vive & Lenovo Bakal Kembangkan Standalone Daydream VR Headset

Google memiliki cara lain untuk membedakan platform VR mobile-nya dari headset standalone Samsung yang memiliki semua perangkat keras yang diperlukan, adalah dengan tanpa memerlukan dukungan perangkat ponsel. Bertepatan pada acara konferensi Google I/O, raksasa layanan internet tersebut mengingatkan kalau akhir tahun ini bakal hadir standalone Daydream headset dari HTC Vive dan Lenovo. Kedua headset tersebut akan didasarkan pada platform VR Qualcomm 835 dan menggunakan WorldSense, yaitu sebuah variasi Google Tango 3D mapping technology yang digunakan untuk pelacakan posisi tanpa memerlukan sensor eksternal apapun.
HTC VIVE

Berdasarkan beberapa sketsa HTC Vive dan Lenovo yang terungkap, keduanya terlihat seperti headset VR biasa pada umumnya. HTC akan menggunakan tali overhead sementara Lenovo akan disematkan pada dahi penggunanya, mirip dengan Sony PlayStation VR. Kedua headset tersebut tampak menggunakan Google Daydream touch controller, meskipun itu dapat berubah pada saat diluncurkan nanti.


Headset standalone yang dikerjakan oleh Google tahun lalu, akan mengintegrasikan pelacakan dan sensor mata untuk memetakan dunia nyata. Dengan menggabungkan semua perangkat keras yang diperlukan ke dalam satu perangkat, Google tampaknya memiliki cara untuk memasarkan platformnya kepada orang-orang yang tidak menggunakan ponsel Android berkemampuan Daydream. Hal itu tentunya membuka kesempatan masuk para pengguna iPhone dan juga para konsumen yang tidak mengupgrade perangkat Androidnya. Selain itu, Oculus juga telah mengembangkan headset VR standalone-nya sendiri yang diklaim sebagai salah satu terobosan Virtual Reality masa depan. Kemitraan yang terjalin antara Qualcomm dan Google adalah untuk membangun referensi standalone daydream VR headset. Bukan hanya untuk kepentingan komersial semata, melainkan kemitraan tersebut lebih ditujukan untuk membantu membimbing perusahaan lain yang berkeinginan merancang unit standalone sendiri. Sayangnya masih belum ada kabar yang pasti terkait harga untuk kedua headset dari HTC Vive dan Lenovo tersebut. Namun mengingat kedua headset VR yang ada akan memiliki perangkat keras yang biasanya ditemukan pada ponsel bertenaga, tidak lah mengherankan kalau harganya sendiri diperkirakan bisa mencapai 300 USD (4 jutaan rupiah) atau bahkan lebih.