Sabtu, 23 September 2017
Sabtu, 27 Mei 2017
Ricoh WG-50, Kamera Underwater dengan Lensa Wide 28-140mm
Buat para pecinta fotografi underwater tentu ingin perangkat kamera yang tidak sekedar mampu bertahan di air dengan baik, tetapi juga memiliki kualitas kamera yang mumpuni. Kali ini Ricoh baru aja memperkenalkan kamera kompak barunya yang dikhususkan untuk kebutuhan outdoor.
Ricoh WG-50, adalah kamera kompak yang memiliki beberapa keunggulan untuk kebutuhan outdoor khususnya fotorgrafi underwater.
Kamera ini diklaim mampu tahan air hingga kedalaman 14 meter selama 2 jam. Wow, tentu ini sangat bagus untuk kebutuhan underwater.
Tidak sekedar mengunggulkan ketahanan air dan fisik saja, tetapi dari segi performa, kamera ini juga sudah sudah dilengkapi beberapa fitur yang memanjakan penggunanya. Seperti adanya fitur 5x zoom dan dukungan lampu LED berjumlah 6 buah yang memutar di sekitar lensa.
Fitur zoom ini ada berkat penggunaan lensa wide 28 – 140mm dengan aperture f/2.5-5.5. Jadi sangat direkomendasikan sekali untuk kebutuhan underwater yang notabene kadang minim cahaya.
Ricoh WG-50 ini menggunakan sensor kamera BSI-CMOS 16 MP yang dapat digunakan untuk merekam video kualitas Full HD 1920 x 1080 piksel 30 fps.
Selain itu kamera ini memiliki nilai ISO maksimal yang cukup tinggi, ISO 6400. Tersedia layar LCD ukuran 2,7 inci dengan 230.000 dots.
Tidak hanya tahan air, kamera ini juga sudah dilengkapi pelindung sedemikian rupa yang membuatnya tahan banting. Misal jatuh dari ketinggian 1,6 meter saja masih aman. Dan kamera ini mampu menahan beban hingga 100 kg. Mau digunakan di suhu -10°C masih oke-oke saja. Jadi ini memang kamera sudah di desain untuk keperluan outdoor.
Dengan adanya lensa 28-140 mm, memungkin untuk digunakan memotret macro dan keberadaan 6 buah LED sangat membantu sekali.
Ricoh WG-50 ini juga memiliki tombol-tombol navigasi yang mudah digunakan. Letaknya di sisi kanan semua sehingga bisa digunakan hanya dengan satu jari (jempol) saja.
Fitur-fitur yang ada di kamera ini cukup lengkap untuk ukuran kamera outdoor. Tersedia port USB 2.0, HDMI, microphone stereo tetapi tidak ada jack microphone. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di spesifikasi di bawah.
Rencananya di akhir Juni nanti Ricoh WG-50 sudah ada dipasaran. Dan harga yang ditawarkannya pun tidak terlalu mahal, hanya sekitar $279 saja atau kurang lebih Rp 3,8 juta. Dari informasi yang ada, Ricoh WG-50 hanya tersedia dalam dua varian warna saja, hitam dan orange.
Spesifikasi Ricoh WG-50
| Price | |
|---|---|
| MSRP | $279/£249 |
| Body type | |
| Body type | Compact |
| Body material | Composite |
| Sensor | |
| Max resolution | 4608 x 3456 |
| Image ratio w:h | 1:1, 4:3, 16:9 |
| Effective pixels | 16 megapixels |
| Sensor photo detectors | 17 megapixels |
| Sensor size | 1/2.3″ (6.17 x 4.55 mm) |
| Sensor type | BSI-CMOS |
| Color space | sRGB |
| Color filter array | Primary color filter |
| Image | |
| ISO | Auto, 125-6400 |
| White balance presets | 6 |
| Custom white balance | Yes |
| Image stabilization | Digital only |
| Uncompressed format | No |
| JPEG quality levels | Fine, normal, basic |
| File format |
|
| Optics & Focus | |
| Focal length (equiv.) | 28–140 mm |
| Optical zoom | 5× |
| Maximum aperture | F3.5–5.5 |
| Autofocus |
|
| Autofocus assist lamp | Yes |
| Digital zoom | Yes (7.2X) |
| Manual focus | Yes |
| Normal focus range | 50 cm (19.69″) |
| Macro focus range | 1 cm (0.39″) |
| Number of focus points | 9 |
| Screen / viewfinder | |
| Articulated LCD | Fixed |
| Screen size | 2.7″ |
| Screen dots | 230,000 |
| Touch screen | No |
| Screen type | TFT LCD |
| Live view | Yes |
| Viewfinder type | None |
| Photography features | |
| Minimum shutter speed | 4 sec |
| Maximum shutter speed | 1/4000 sec |
| Exposure modes |
|
| Scene modes |
|
| Built-in flash | Yes |
| Flash range | 5.50 m (at Auto ISO) |
| External flash | No |
| Flash modes | On, off |
| Drive modes |
|
| Continuous drive | 8.0 fps |
| Self-timer | Yes (2 or 10 secs, remote) |
| Metering modes |
|
| Exposure compensation | ±2 (at 1/3 EV steps) |
| AE Bracketing | ±2 (3 frames at 1/3 EV steps) |
| Videography features | |
| Format | MPEG-4, H.264 |
| Modes |
|
| Microphone | Stereo |
| Speaker | Mono |
| Storage | |
| Storage types | SD/SDHC/SDXC card |
| Connectivity | |
| USB | USB 2.0 (480 Mbit/sec) |
| HDMI | Yes (micro-HDMI) |
| Microphone port | No |
| Headphone port | No |
| Remote control | Yes (Wireless) |
| Physical | |
| Environmentally sealed | Yes |
| Battery | Battery Pack |
| Battery description | D-LI92 lithium-ion battery & charger |
| Battery Life (CIPA) | 300 |
| Weight (inc. batteries) | 193 g (0.43 lb / 6.81 oz) |
| Dimensions | 123 x 62 x 30 mm (4.84 x 2.44 x 1.18″) |
| Other features | |
| Orientation sensor | Yes |
| Timelapse recording | Yes |
| GPS | None |
HTC Vive & Lenovo Bakal Kembangkan Standalone Daydream VR Headset
Google memiliki cara lain untuk membedakan platform VR mobile-nya dari headset standalone Samsung yang memiliki semua perangkat keras yang diperlukan, adalah dengan tanpa memerlukan dukungan perangkat ponsel. Bertepatan pada acara konferensi Google I/O, raksasa layanan internet tersebut mengingatkan kalau akhir tahun ini bakal hadir standalone Daydream headset dari HTC Vive dan Lenovo. Kedua headset tersebut akan didasarkan pada platform VR Qualcomm 835 dan menggunakan WorldSense, yaitu sebuah variasi Google Tango 3D mapping technology yang digunakan untuk pelacakan posisi tanpa memerlukan sensor eksternal apapun.
Berdasarkan beberapa sketsa HTC Vive dan Lenovo yang terungkap, keduanya terlihat seperti headset VR biasa pada umumnya. HTC akan menggunakan tali overhead sementara Lenovo akan disematkan pada dahi penggunanya, mirip dengan Sony PlayStation VR. Kedua headset tersebut tampak menggunakan Google Daydream touch controller, meskipun itu dapat berubah pada saat diluncurkan nanti.
Headset standalone yang dikerjakan oleh Google tahun lalu, akan mengintegrasikan pelacakan dan sensor mata untuk memetakan dunia nyata. Dengan menggabungkan semua perangkat keras yang diperlukan ke dalam satu perangkat, Google tampaknya memiliki cara untuk memasarkan platformnya kepada orang-orang yang tidak menggunakan ponsel Android berkemampuan Daydream. Hal itu tentunya membuka kesempatan masuk para pengguna iPhone dan juga para konsumen yang tidak mengupgrade perangkat Androidnya. Selain itu, Oculus juga telah mengembangkan headset VR standalone-nya sendiri yang diklaim sebagai salah satu terobosan Virtual Reality masa depan. Kemitraan yang terjalin antara Qualcomm dan Google adalah untuk membangun referensi standalone daydream VR headset. Bukan hanya untuk kepentingan komersial semata, melainkan kemitraan tersebut lebih ditujukan untuk membantu membimbing perusahaan lain yang berkeinginan merancang unit standalone sendiri. Sayangnya masih belum ada kabar yang pasti terkait harga untuk kedua headset dari HTC Vive dan Lenovo tersebut. Namun mengingat kedua headset VR yang ada akan memiliki perangkat keras yang biasanya ditemukan pada ponsel bertenaga, tidak lah mengherankan kalau harganya sendiri diperkirakan bisa mencapai 300 USD (4 jutaan rupiah) atau bahkan lebih.
![]() |
| HTC VIVE |
Berdasarkan beberapa sketsa HTC Vive dan Lenovo yang terungkap, keduanya terlihat seperti headset VR biasa pada umumnya. HTC akan menggunakan tali overhead sementara Lenovo akan disematkan pada dahi penggunanya, mirip dengan Sony PlayStation VR. Kedua headset tersebut tampak menggunakan Google Daydream touch controller, meskipun itu dapat berubah pada saat diluncurkan nanti.
Headset standalone yang dikerjakan oleh Google tahun lalu, akan mengintegrasikan pelacakan dan sensor mata untuk memetakan dunia nyata. Dengan menggabungkan semua perangkat keras yang diperlukan ke dalam satu perangkat, Google tampaknya memiliki cara untuk memasarkan platformnya kepada orang-orang yang tidak menggunakan ponsel Android berkemampuan Daydream. Hal itu tentunya membuka kesempatan masuk para pengguna iPhone dan juga para konsumen yang tidak mengupgrade perangkat Androidnya. Selain itu, Oculus juga telah mengembangkan headset VR standalone-nya sendiri yang diklaim sebagai salah satu terobosan Virtual Reality masa depan. Kemitraan yang terjalin antara Qualcomm dan Google adalah untuk membangun referensi standalone daydream VR headset. Bukan hanya untuk kepentingan komersial semata, melainkan kemitraan tersebut lebih ditujukan untuk membantu membimbing perusahaan lain yang berkeinginan merancang unit standalone sendiri. Sayangnya masih belum ada kabar yang pasti terkait harga untuk kedua headset dari HTC Vive dan Lenovo tersebut. Namun mengingat kedua headset VR yang ada akan memiliki perangkat keras yang biasanya ditemukan pada ponsel bertenaga, tidak lah mengherankan kalau harganya sendiri diperkirakan bisa mencapai 300 USD (4 jutaan rupiah) atau bahkan lebih.
Cegah Penularan Virus via Flashdisk ke Komputer dengan Cara Ini
Flashdisk termasuk media penyimpanan favorit banyak pengguna komputer atau laptop. Bukan hanya karena praktis, tetapi juga kapasitasnya pun sudah menyamai hard disk atau hard drive.
Namun tidak jarang, flashdisk menjadi sarana makan tuan. Alih-alih memberi manfaat, flashdisk justru malah bisa menularkan virus.
Serius? Ya, sangat serius! Bukankah menyebalkan, bila komputer atau laptop kita awalnya bersih dari virus, malware, dan sejenisnya, tiba-tiba tanpa kita sadari malah tertular akibat flashdisk.
Penyebabnya adalah fungsi autorun atau autoplay, ketika flashdisk tersemat ke USB port. Pada dasarnya fungsi ini secara default memang menyala. Maka itu, jelas sudah bahwa cara untuk mencegahnya adalah dengan mematikan fungsi autorun.
Lantas, bagaimana cara mematikannya? Simak rangkumannya berikut ini.
Mematikan fungsi ini bisa dengan dua pendekatan, yakni mengubah setelan di Windows dan menggunakan perangkat lunak pihak ketika. Pendekatan pertama memang lebih teknis, sehingga kali ini kami menyarankan pendekatan kedua.
Ada banyak perangkat lunak gratis yang menawarkan fitur mematikan fungsi autorun. Salah satunya adalah Portable Windows Autorun Disable.
Dari namanya bisa ditebak bahwa perangkat lunak ini bisa dioperasikan tanpa proses instalasi alias portabel. Versi terbaru perangkat ini, 3.0, sudah mendukung Windows 10.
Mematikan Autorun
1. Unduh dan jalankan "Windows Autorun Disable"
2. Klik "All Drives" untuk mematikan Autorun di semua drive
3. Atau klik "Selected Drives" dan pilih "Drive Types" untuk mematikan autorun di drive tertentu. Kamu setidaknya harus memilih satu drive
4. Klik level pengguna, apakah Current User atau All users untuk menerapkan perubahan setelan ini
5. Terakhir, klik "Disable Autorun" dan restart komputer atau laptop
Menyalakan Kembali Autorun
1. Klik "Selected Drives" dan hapus semua centang pada Drive Types
2. Klik level pengguna, apakah "Current User" atau "All users" untuk menerapkan perubahan setelan ini
3. Klik "Disable Autorun" untuk menyalakannya kembali, lalu restart komputer atau laptop kamu




